Oleh : Yosephine Ridjab
Saat ini, saya bersama kedua adik saya sedang mengikuti kuliah di Belanda. Kami berada disini kurang lebih satu tahun. Selama ini kami tinggal di berbagai kota yang berlainan karena program yang kami minati tidak ada di dalam satu kota. Saya tinggal bersama tante saya, sementara adik saya ada yang indekost di keluarga Indonesia-Belanda, sedangkan yang lain tinggal di flat untuk mahasiswa.
Dua bulan yang lalu, adik saya yang sekarang tinggal di Jakarta, datang liburan ke Belanda bersama Ibu Daud. Saya baru bertemu Ibu Daud pada saat itu, sedangkan adik-adik saya sudah lebih dahulu mengenal beliau. Pada kunjungan itu, kami semua mengundang Yesus masuk dalam hati kami dan melakukan peneguhan baptisan. Ibu Daud menyarakan agar kami tidak tinggal secara terpisah seperti saat ini. Sebaiknya kami tinggal serumah saja, karena di beberapa rumah yang kami tempati banyak terdapat barang-barang tumpas dan roh-roh najis. Selain itu, juga akan lebih mudah jika orangtua kami datang dan tempat itu juga bisa dijadikan tempat untuk persekutuan doa, jika Ibu Daud atau anggota Gereja RDSB berkunjung kesini. Tidak seperti saat ini, agak susah bagi kami untuk menyediakan tempat buat kebaktian.
Kami dapat informasi bahwa mencari rumah yang resmi di Belanda itu tidak gampang, apalagi status kami adalah pelajar dan orang asing. Biasanya pemilik rumah atau makelar akan meminta surat keterangan penghasilan penyewa, bahkan untuk pelajar Belanda sendiri juga susah mendapat rumah. Ada kenalan kami (pelajar Belanda) yang sudah lebih dari dua tahun belum mendapat rumah. Apalagi pelajar asing, kalaupun ada biasanya cukup mahal untuk status pelajar. Teman kami ada yang dapat rumah setelah hampir satu tahun menunggu, itu juga dia bilang sudah mujizat, karena mendaftar di biro makelar saja banyak yang dipersulit. Karena itulah kami awalnya masih setengah hati untuk mengikuti saran Ibu Daud. Pikir kami, kami harus menunggu sekitar setahun dulu baru mendapat rumah, sedangkan tahun depan kuliah kami masing-masing sudah selesai. Kemungkinan besar kami semua akan kembali ke Indonesia.
Tanggal 13 Desember 2002, saya mendapat panggilan interview di tempat kerja adik saya. Kami pikir tidak ada salahnya untuk coba mencari rumah ke biro makelar. Seburuk-buruknya, paling nanti ditolak. Tapi di biro yang pertama, belum sampai isi formulir pendaftaran, kami sudah ditolak sebab kami masih pelajar. Kalau pun kami bisa menyediakan surat bukti penghasilan, kami juga tidak bisa memakai jasa mereka sebab kami harus berpenghasilan yang cukup besar.
Lalu kami coba lagi ke biro lain kebetulan di jalan yang sama, siapa tahu bisa. Dari awal kami sudah memberi tahu bahwa kami adalah pelajar yang ingin sewa rumah. Mereka tanya apa kami bisa menyiapkan jaminan dari orangtua mengenai pembayaran biaya sewa, kami bilang saja bisa. Langsung kami disuruh mengisi formulir pendaftaran dan dijelaskan lebih lanjut bila kami mau memakai jasa mereka. Kami pun setuju. Setelah dicek di internet, ternyata ada sebuah rumah, tapi tidak di kota tempat tinggal salah satu dari kami, dengan hanya sebuah kamar tidur. Kami bersedia meninjau rumah itu dan si makelar berjanji akan menelpon kami minggu depan, itu pun jika rumah tersebut belum disewa.
Tanggal 18 Desember 2002, kami ditelpon si makelar, katanya kalo kami berminat dengan rumah yang dia tawarkan, kami bisa datang besok. Besoknya, kami pergi ke lokasi tersebut. Sebelumnya, saya sudah mencoba sendiri cek melalui internet, apa ada rumah lain yang disewakan. Saya dapat satu rumah lain yang punya lebih dari satu kamar tidur, di kota adik saya, dan harganya tidak terlalu mahal. Maka saya tanya makelar itu, kalau kami bisa meninjau rumah itu. Dia menyuruh kami untuk memilih antara kedua rumah itu, karena waktu berkunjung keduanya hampir bersamaan, jadi tidak mungkin kami meninjau kedua rumah itu di hari yang sama. Waktu peninjauan rumah di Belanda, ditentukan oleh makelar dan pemilik rumah. Jadi kalau kita tidak bisa datang di hari yang telah mereka tentukan, kita harus menunggu jadwal lain, itu pun hanya kalau rumah tersebut belum ada yang menyewa.
Saya telpon adik saya yang ada di Jakarta untuk minta pendapatnya. Akhirnya kami semua setuju kami akan tinjau rumah yang lebih besar. Kalau hanya sebuah kamar tidur, tentu tidak cukup buat kami bertiga. Malam itu, kami doa minta pada Tuhan agar proses ini berjalan lancar dan kami boleh dapat rumah. Besoknya tanggal 19 Desember 2002, kami melihat rumah tersebut. Tuhan memang bekerja hari itu, mulai di tempat kerja adik saya. Biasanya tidak memberi ijin karyawannya untuk pergi satu atau dua jam pada jam kerja karena mereka kerja shift. Bila ada hal-hal mendesak dan tidak dapat ditunda, harus memberitahukan sehari sebelumnya atau mencari orang untuk menggantikan. Tapi waktu adik saya telpon ke manager on duty pada hari itu untuk meminta izin satu jam saja, adik saya langsung diperbolehkan, malah diberi waktu satu setengah jam, dan masih banyak lagi.
Ternyata rumah itu terletak di atas bengkel, tidak terlalu bagus tapi lumayan bisa ditempati dan ada tiga kamar tidur. Kami harus mengecat ulang saja. Transportasi di daerah itu gampang. Ruang tamu dan ruang makan bisa disatukan. Kami langsung teringat pada Ibu Daud. Kalau beliau datang lagi ke Belanda, bisa mengadakan kebaktian di ruang tersebut karena cukup luas. Tapi kami diberitahu makelar, bahwa pemiliknya hanya mau menyewakan untuk setahun saja. Kami bilang kebetulan sekali, kami tahun depan kemungkinan besar juga sudah pulang kembali ke Indonesia.
Kami diberi waktu untuk memberi keputusan besok pagi. Sampai di rumah saya langsung telpon adik saya di Jakarta, dan dia menyuruh kami berdoa. Sejujurnya, hal ini baru buat saya tapi malam itu saya berdoa juga. Sebenarnya saya tidak tahu pasti apakah daerah itu aman atau tidak untuk tempat tinggal. Banyak hal-hal lain yang saya kuatirkan, makanya waktu berdoa saya minta kepada Tuhan Yesus, kalau jawaban si pemilik besok "YA" berarti untuk selanjutnya kami tidak akan ada masalah keamanan dan sebagainya, tapi kalau memang rumah itu tidak baik bagi kami, saya harap bahwa pemiliknya akan mengatakan "TIDAK". Saya juga minta bantuan doa dari ibu Daud dan keluarga di Jakarta.
Tanggal 20 Desember 2002 pagi, adik saya yang disini tanya apakah saya sudah mendapat jawaban dari Tuhan Yesus mengenai rumah itu. Saya bilang saya sudah berdoa tapi tidak tahu jawabannya apa. Saya tanya dia, dia bilang sepertinya kita bisa menyewa tempat itu, karena pada malam sebelum kami memberikan keputusan, dia mendapat ayat dari Yehezkiel 48: 32-35 yang berbunyi : "Di sisi sebelah timur, yang ukurannya empat ribu lima ratus hasta, terdapat tiga pintu gerbang juga, yaitu pintu gerbang Yosef, pintu gerbang Benyamin dan pintu gerbang Dan. Di sisi sebelah selatan, yang ukurannya empat ribu lima ratus hasta, terdapat tiga pintu gerbang juga, yaitu pintu gerbang Simeon, pintu gerbang Isakhar dan pintu gerbang Zebulon. Di sisi sebelah barat, yang ukurannya empat ribu lima ratus hasta, terdapat tiga pintu gerbang juga, yaitu pintu gerbang Gad, pintu gerbang Asyer dan pintu gerbang Naftali. Jadi sekeliling kota itu adalah delapan belas ribu hasta. Sejak hari itu nama kota itu ialah :TUHAN HADIR DI SITU".
Pada pagi harinya dia mendapat ayat dari Hagai 2: 19-20 yang berbunyi: "Perhatikanlah mulai hari ini dan selanjutnya-mulai dari hari yang kedua puluh empat bulan kesembilan. Mulai dari hari diletakkannya dasar bait Tuhan perhatikanlah apakah benih masih tinggal tersimpan di lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah? Mulai hari ini Aku akan memberi berkat!".
Dan satu ayat lagi dari Hagai 2: 10 yang berbunyi: "Adapun rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman Tuhan semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam".
Saya telpon makelar, menyatakan kami setuju menyewa rumah tersebut. Si makelar meminta waktu berunding dengan pemiliknya. Sebentar kemudian, saya dikabarkan kembali bahwa pemiliknya setuju menyewakan rumahnya pada kami. Puji Tuhan! Saya langsung memberitahu hal ini pada adik saya di Jakarta dan minta dia beritahu Ibu Daud atas berkat dan bantuan doanya, kami sudah memiliki rumah sekarang. Saya langsung bayar uang muka sebagai tanda bahwa rumah itu sudah menjadi hak kami. Semua orang yang tahu bahwa kami sedang mencari rumah, setelah mendengar kabar ini, mereka hampir tidak dapat percaya bahwa kami sudah dapat rumah begitu cepatnya, hanya dalam waktu satu minggu.
Rencana Tuhan memang luar biasa, sekarang kami juga mau menyerahkan proses selanjutnya sampai dengan pengisian rumah tersebut ke dalam tangan Tuhan, karena itulah cara yang paling aman dan terjamin. Kami harap kesaksian ini juga dapat menguatkan iman saudara-saudara seperti iman dan kepercayaan kami yang semakin kuat setelah kami mengalami sendiri peristiwa ini bersama penyertaan-Nya. Halleluya! Amin.