Mujizat! Banyak orang Kristen terperangah mendengar kata ini! Seakan-akan mujizat adalah sesuatu yang asing dan sukar terjadi. Dan mereka berpikir mujizat itu dulu, sekarang sudah tidak ada lagi. Padahal dalam Kisah Para Rasul 2: 17-20 dijanjikan oleh Tuhan bahwa pada saat saat akhir ini, Dia mencurahkan Roh-Nya dengan tanpa batas. Sehingga akan terjadi pekerjaan-pekerjaan Roh yang luar biasa, di antaranya, terjadinya mujizat-mujizat. Jadi orang Kristen harus terbiasa melihat dan melakukan mujizat. Kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui perbuatan mujizat. Alkitab banyak berisi mujizat, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Bahkan Perjanjian Baru ada, itu juga karena mujizat. Dengan lahirnya Yesus dari perawan Maria karena Roh Kudus, bahkan setelah mati di kayu salib bangkit kembali pada hari yang ketiga, itu adalah mujizat yang paling besar. Apalagi Tuhan Yesus selama hidup di dunia, Ia selalu melakukan mujizat. Bukan itu saja, Dia memberikan perintah dan wewenang serta kuasa kepada kita untuk melakukannya juga, bahkan lebih besar dari yang Dia lakukan. Betapa luar biasanya! Mengapa? Karena kita anak-anak Allah. Jadi kalau Bapak kita hebat, pasti anak-anaknya juga hebat. Yang penting di sini adalah iman kita. Apakah iman kita sungguh-sungguh mempercayai-Nya? Karena dengan iman yang sungguh-sungguh kepada-Nya, membuat kita sadar bahwa sesungguhnya bukan kekuatan kita yang melakukannya tapi Dia di dalam kita yang melakukan semuanya. Sehingga kita mulai berani bertindak sesuai dengan iman kita.
Pada mulanya, kita miliki iman dasar, yaitu iman tentang menerima keselamatan. Karena kita percaya kepada janji Firman-Nya dalam Yohanes 3:16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Iman kepada keselamatan ini adalah iman yang akan menjadi fondasi utama untuk kita memperoleh penggenapan dari setiap janji-Nya. Iman yang menyadarkan akan status kita sekarang, hak-hak kita dan otoritas yang telah diberikan kepada kita. Kita adalah ahli waris dari Bapa kita. Ahli waris dari Kerajaan Allah yang penuh dengan kekayaan rohani, materi, maupun jasmani yang melimpah-limpah.
Untuk meraih ini semua, kita harus mengalami peningkatan iman. Lompatan-lompatan iman harus kita lalui. Sampai kita berani mempercayai janji firman-Nya dalam Markus 9: 23 "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya." Dan orang percaya itu adalah kita. Yohanes 6: 28-29 "Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu PERCAYA kepada Dia yang telah diutus Allah."
PERCAYA atau BERIMAN merupakan satu perintah yang harus kita kerjakan. Sebab dengan beriman kepada Yesus saja, tidak ditambah atau dikurangi dengan yang lain karena pertimbangan apapun, berarti kita melakukan pekerjaan yang dikehendaki oleh Allah. Luar biasa! Berarti kita harus mempercayai Firman-Nya dan Kuasa Urapan-Nya, sehingga perkataan perkataan dari mulut kita yang kita ucapkan dalam nama Yesus, juga penuh kuasa. Apa saja yang kita minta dalam nama-Nya Dia pasti melakukan-Nya Yohanes 14: 14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." Nama Yesus adalah jaminan kita berkenan di hadapan Allah, untuk meminta, untuk melakukan hal-hal yang besar, juga melakukan mujizat-mujizat dan sebagainya, asal sesuai dengan kehendak-Nya.
Kehendak Allah sudah tertulis dalam Firman-Nya. Bukankah Nama itu nama diatas segala nama? Nama Yesus yang akan membuat semua lidah mengaku Dia adalah Tuhan dan semua lutut akan bertelut menyembah kepada-Nya. Tiada nama yang lebih tinggi dari itu. Tapi karena orang Kristen sudah terlalu latah menyebutkan Nama itu, akibatnya imannya tak lagi terlalu mempercayai akan kuasa yang mengalir dalam Nama itu. Kita perlu kembali menghormati dan menghargai Nama itu. Sehingga setiap kali kita menyebutnya, maka terjadilah sesuatu yang luar biasa. Sehingga iman kita hari ini harus lebih besar dari iman kita hari kemarin. Iman kita hari esok harus lebih besar dari iman hari ini. Begitulah seterusnya kita mengalami pertumbuhan iman setiap hari, sampai iman kita sempurna seperti iman yang dimiliki Yesus.
Iman Tuhan Yesus sangat sempurna. Itu sebabnya Dia tak perlu diberi karunia bahasa Roh. Supaya kita memiliki iman yang sempurna seperti Dia, Allah memberikan karunia bahasa Roh bagi kita. I Korintus 14: 4 mengatakan "Siapa yang berkata-kata dengan bahasa Roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat ia membangun jemaat."
Orang Kristen yang sudah dipenuhi kuasa Roh Kudus perlu banyak berbahasa Roh supaya imannya terus dibangun dan semakin kuat. Tapi juga jangan lupa, bahwa iman tanpa tindakan adalah iman yang mati. Jadi mulailah praktek iman dengan melakukan hal-hal yang besar, termasuk melakukan mujizat dalam nama Yesus.
Ketika saya bertobat kepada Tuhan Yesus, saya mempraktekkan iman ini dalam kehidupan saya sekeluarga. Bahkan dari anak saya waktu masih kecil-kecil, saya sudah mengajari mereka hidup dalam iman hanya kepada Tuhan Yesus Kristus dan Firman-Nya. Baik dalam hal keuangan, sekolah, sakit, bahkan sampai iman kepada mujizat. Saya ingat ketika anak saya yang kedua yaitu Jimmy masih berumur tiga setengah tahun, dia mengalami sakit pusing. Cepat dia datang kepada saya dan mengeluh tentang pusingnya. Saya katakan: "Ayo kita berdoa. Kamu percaya kan bahwa Tuhan Yesus yang kita sembah sudah mati di kayu salib untuk menebus penyakit kita juga?" "Percaya Ma !" jawabnya. "Okey sekarang kita berdoa. Tuhan Yesus, Engkau telah menanggung semua sakit penyakit Jimmy dua ribu tahun yang lalu, jadi sekarang dia tak perlu lagi sakit pusing. Sekarang roh sakit pusing keluar dari anak ini! Dan jadilah sembuh. Oleh bilur-bilur-Mu, Jimmy sudah sembuh. Amin!" Saya tanya dia, "Bagaimana, masih pusing?" "Masih Ma?!" "Kita berdoa lagi, pokoknya harus sampai sembuh." Beberapa kali saya mengulangi doa itu, sampai akhirnya dia benar-benar mengalami kesembuhan. Akhirnya dia tertawa lebar, dan segera lari keluar main layang-layang lagi.
Mengapa saya lakukan doa berulang kali? Sebab saya ingin mengajar hidup dengan iman kepada anak-anak saya. Dan iman tak mengenal putus asa. Dengan iman kita harus sampai menerima apa yang kita minta kepada Bapa, di dalam Nama Tuhan Yesus. Dan melalui peristiwa ini saya ingin anak saya tahu bahwa iman itu harus dipraktekkan di segala bidang. Dan iman harus mengalami peningkatan.
Beberapa waktu kemudian, ketika kami sedang pergi pelayanan, Jimmy mengalami sakit perut. Tapi dia ingat, setiap kali sakit mamanya selalu berdoa sampai dia sembuh. Sedangkan mamanya berdoa selalu dengan tumpang tangan kepadanya. Sekarang tangan mamanya tidak ada. Jadi tangan siapa yang harus ditumpangkan ke atas kepalanya? Tiba-tiba dia punya ide sendiri. Dia tumpangkan tangannya sendiri di atas kepalanya, sambil berkata: "Dalam Nama Tuhan Jecus (karena waktu itu dia belum bisa berkata dengan jelas) aku pelintahkan loh cakit peyut, kelual! Oleh biyul-biyul-Nya Jimmy telah cembuh." Berulangkali dia berdoa seperti itu, tahu-tahu perutnya terasa panas sekali, dan sesudah itu kentut terus, sehingga sakit perutnya sembuh. Rupanya sakit perutnya itu disebabkan masuk angin. Pengalaman ini memang sederhana, tapi ketika dia bersaksi kepada saya tentang kejadian ini, saya sangat terharu dan bersukacita. Karena berarti anak saya sudah mengalami lompatan iman dan berani mempraktekkan iman dalam hidupnya walaupun masih kanak-kanak. Sejak saat itu anak-anak saya mulai berani hidup dalam iman.
Firman Allah juga memerintahkan kepada kita, untuk hidup dalam iman ketika menghadapi situasi dan masalah apapun. Perhatikan ayat-ayat berikut:
Roma 1: 17 "Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."
Ibrani 11: 6 "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling daripada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia."
Jadi kalau kita hidup tidak di dalam iman berarti kita tidak berkenan kepada Allah. Segala sesuatu hadapilah dengan iman.
Roma 14: 23b "Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa." Kalau kita hidup berdasarkan iman, maka kita hidup di dalam kasih karunia-Nya.
Sekarang saatnya kita mempraktekkan iman dengan sebulat hati sampai kita masuk kepada iman mujizat. Juga iman untuk meraih seluruh penggenapan dari janji Allah. Mujizat masih berlangsung, siapa yang berhak melakukannya? Kita anak-anak Allah. Dimana ada anak-anak Allah yang melakukan mujizat, di situlah nama Tuhan dipermuliakan dan dimasyurkan. Sampai kapan? Sampai kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi. Sehingga banyak jiwa bertobat kepada Tuhan Yesus. Halleluya! Amin!