Edisi Kedelapan - Maret | April | Mei 2003





Halaman Muka


Cari Kata:
Dari Situs :


Kantor Redaksi :
Gedung RDSB Lt.2
Jl. Soekarno-Hatta 73
Bandung - Indonesia

Account Bank :
Bank Central Asia
Sumbersari - Bandung
Ac. 157 11 888 78
an. R. Iwan Indra Irawan



Statistik Pengunjung

Administrator




Minggu, Mei 11, 2003

Musim Perubahan

Oleh : Rudolf Pattiradjawane

Perubahan Adalah Suatu Tanda Pertumbuhan
Perubahan selalu terjadi dalam setiap hidup manusia sebagai tanda adanya pertumbuhan. Perubahan tersebut merupakan suatu proses alami yang harus dilalui oleh setiap kita. Tidak ada seorangpun termauk Anda dan saya yang dapat menolak dan menghindari terjadinya perubahan.

Cobalah kita ambil sebuah contoh tentang perubahan diri Anda secara fisik. Lihatlah perubahan apa yang terjadi dalam diri Anda selama sepuluh-dua puluh tahun terakhir ini? Secara fisik mungkin ada bertambah tinggi, berat badan Anda bertambah sehingga menjadi gemuk atau mungkin juga bertambah kurus, ukuran-ukuran baju dan celana Anda mungkin juga sudah berubah, dan tentunya orang lain akan melihat Anda bukan seperti anak kecil lagi tetapi sebagai orang dewasa.

Pertumbuhan yang lainnya adalah dari segi emosi. Emosi Anda mulai berubah, Anda mulai mengenal apa rasanya marah, sedih, sakit hati atau kesepian. Bahkan lingkungan pergaulan Anda pun berubah, Anda butuh teman yang sebaya dengan Anda dalam sebuah pergaulan. Tidak mungkin bagi seseorang yang berumur dua puluh lima tahun setiap harinya harus bermain dengan anak-anak yang berumur sekitar lima sampai sepuluh tahun, karena orang itu adalah orang yang telah dewasa dan bukan anak kecil lagi.

Pernahkah Anda berpikir, bahwa kehidupan kerohanian kita juga akan mengalami berbagai musim perubahan yang akan menentukan kehidupan rohani kita apa bertumbuh atau tidak. Situasi kehidupan yang beraneka ragam terus menyerang hidup kita, yang kadangkala membuat kita nampaknya harus menyerah dalam suatu keadaan tertentu. Padahal kalau kita dapat bersabar sedikit lagi dan mengharapkan pertolongan Tuhan, kita dapat mengalahkan keadaan tersebut.

Musim-musim perubahan yang terjadi dalam hidup rohani kita sangatlah kompleks. Adakalanya Allah akan membawa kita pada satu musim kesesakan dimana iman kita dituntut untuk mengalami ujian, apakah kita tetap mempercayai Allah atau tidak. Atau musim kesedihan, dimana orang-orang yang selama ini kita percayai dan kasihi meninggalkan dan mungkin juga mengkhianati kita. Dan musim kekeringan dimana kita dituntut untuk mempercayai Allah sebagai Yehovah Jireh itu masih kita yakini atau tidak.

Saudara, semua musim perubahan dalam hidup rohani kita tidaklah dapat kita tolak kedatangannya. Kita juga tidak bisa menuntut Allah untuk memberikan kepada kita musim-musim yang kita mau saja.
Hal itu tidaklah mungkin karena dalam Pengkhotbah 3:1, dikatakan: "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun dibawah langit ada waktunya."
Dan tujuan Allah melakukan semuanya ini adalah membuat segala sesuatu indah pada waktunya Pengkhotbah 3:11a dan supaya kita takut akan Allah Pengkhotbah 3:14.

Saya selalu membagi kehidupan rohani seseorang menjadi dua:

a.Comfort Zone (Zona Kenyamanan)
Zona ini merupakan satu ruang kehidupan dimana seorang telah merasa puas, mapan serta sukses dan anti dengan perubahan atau tantangan. Tuhan Yesus sangat mengecam orang-orang yang suka dalam zona kenyamanan ini. Sebagai contoh: dalam pelayanan Tuhan Yesus orang-orang Farisi dan Sadukilah yang berada dalam zona ini. Mereka menolak kebenaran karena merasa kenyamanan mereka terganggu. Mereka berpikir bahwa tradisi Musa yang turun temurun adalah tradisi yang mereka anggap benar dalam hubungan mereka dengan Allah dan mereka sangat terbiasa melakukan tradisi tersebut.

Oleh karena hal itu, ketika Tuhan Yesus datang ke dunia dan mengajar orang-orang Israel, orang Farisi dan Sadukilah yang sangat menolak apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Mereka merasa tidak butuh perubahan karena roh tradisi agamawi yang lahir dari kenyamanan mereka telah mengikat mereka selama bertahun-tahun. Ingatlah saudara, bahwa orang yang selalu suka akan kenyamanan akan hidup dalam kehidupan rohani yang kerdil dan mudah terbawa arus penyesatan. Oleh sebab itu berhati-hatilah dengan keadaan ini.

b.Challenge Zone (Zona tantangan atau perubahan)
Zona ini merupakan satu ruang kehidupan dimana seorang dengan proaktif memperbaiki diri terus menerus karena ingin berkembang atau bertumbuh. Selalu siap menghadapi tantangan dan suka menghadapi perubahan yang positif. Orang-orang hidup dalam zona ini adalah orang-orang yang selalu hidup dalam kasih yang mula-mula. Mereka selalu mengingat cinta Allah mereka dalam setiap perubahan yang mereka alami. Mereka adala orang-orang yang selalu yakin bahwa Allah akan membuat segala sesuatu menjadi indah pada waktunya.

Sekarang yang menjadi pertanyaaan kita adalah apa yang harus kita lakukan ketika musim perubahan itu datang dalam kehidupan kita? Oleh karena itu, kita mau belajar dari beberapa tokoh dalam Alkitab yang pernah Allah bawa ke dalam musim perubahan dalam hidup mereka. Dan kita dapat belajar bagaimana respon mereka dalam musim perubahan.


  1. Musa (Baca: Mazmur 90)
    Musa adalah seorang yang selalu mengalami perubahan-perubahan. Sejak dari lahir dia telah mengalami pembuangan oleh ibunya yang adalah seorang Lewi. Tetapi Allah merubahnya dengan menjadikan Musa sebagai satu-satunya orang Ibrani yang hidup dalam istana Firaun dan selamat dari pembataian anak laki-laki Israel di Mesir (Keluaran 1-2). Selama dia hidup di Istana Firaun, Musa merasakan kehidupan yang enak dan tidak pernah mengalami kekurangan. Dia hidup dalm suasana Istana Firaun yang serba ada. Kemudian setelah ia membunuh seorang Mesir karena telah menyiksa seorang Ibrani, Musa akhirnya melarikan diri ke tanah Midian. Dan ia hidup sebagai gembala kambing domba Yitro seorang Imam di Midian, yang akhirnya menjadi mertua Musa.

    Kehidupan di Midian sangatlah jauh berbeda dengan di Istana Firaun. Musa harus harus mengalami perubahan seratus depan puluh derajat. Kehidupan yang tadinya serba mewah dan semua serba dilayani, berubah menjadi kehidupan yang mandiri dan terbatas. Karena hal yang dialaminya itu, ketika anak pertamanya lahir Musa memberikan nama anak itu Gersom, sebab katanya: "Aku telah menjadi pendatang di negeri Asing" - Keluaran 2:22. Hal ini terjadi sampai umur Musa mencapai empat puluh tahun, Lalu kemudian Allah mengutus Musa sebagai Nabi untuk bangsa Israel di Mesir - Kisah Para Rasul 7:23-28.

    Mazmur 90 adalah satu mazmur yang ditulis oleh Musa sebagai doa abdi Allah ketika Musa mengalami perubahan-perubahan tersebut.
    Dalam Mazmur 90: 7-10 dikatakan: "Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut. Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu dan dosa kami tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu. Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh. Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun dan kebanggaanya adalah kesukaran dan penderitaan."

    Ketika saya membaca ayat diatas, barulah saya menyadari, bahwa apa yang Musa alami ketika perubahan terjadi dalam kehidupan adalah Kesukaran dan Penderitaan. Dan hal itu merupakan kebanggaannya selama dia hidup. Lalu apa yang di lakukan Musa sehingga dia dapat melewati masa kesukaran dan penderitaan itu? Bacalah Mazmur 90: 13-15, dikatakan:
    "Kembalilah ya Tuhan - berapa lama lagi?- dan sayangilah hamba-hamba-Mu! Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami. Buatlah kami bersukacita SEIMBANG dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka."

    Puji Tuhan! Respon Musa adalah respon yang benar yaitu BERSUKACITA. Walaupun penderitaan dan kesukaran mewarnai kehidupannya sebagai abdi Allah, Musa tetap bersukacita. Karena Musa tahu bahwa bersukacita adalah kekuatan yang mampu membuatnya bertahan dengan setia. Lalu bagaimana dengan kehidupan Anda? Mampukah Anda melakukan seperti yang Musa lakukan?

    Ingatlah bahwa sebenarnya, tidak ada sesuatupun yang dapat mengecewakan kita selain karena respon hati kita yang salah. Artinya, jika Anda memilih respon hati yang tetap bersukacita ketika perubahan itu datang maka yang Anda dapati adalah kekuatan. Tetapi jika sebaliknya, Anda memilih respon hati yang takut, kuatir, dan putus asa maka kekecewaan saja yang akan menjadi bagian hidup Anda. Oleh karena itu, PUTUSKANLAH RESPON HATI ANDA… BERSUKACITA ATAU TIDAK BERSUKACITA!

  2. Yesus
    Pada Natal 2002 Desember kemarin teman-teman satu kost saya semuanya pulang ke rumah mereka yang berada di luar kota Bandung. Sehingga pada malam Natalnya cuma saya seorang diri di tempat kost saya. Sepi juga ternyata. Ketika saya duduk termenung, Tuhan Yesus mengingatkan saya tentang keadaan dimana Dia pernah mengalami kesepian yang sangat ketika Dia berada dalam Taman Getsemani. Hal itu membuat saya sempat berpikir sejenak merenungkan keadaan yang pernah Yesus alami dengan keadaan saya di tempat kost, yaitu kesepian. Kemudian setelah saya membaca Matius 26: 36-46, saya mendapati satu hal yang indah. Dalam perikop tersebut dikatakan bahwa Yesus sedang bergumul untuk memberikan sebuah keputusan terberat dalam hidup-Nya yaitu mati di atas kayu salib untuk menjadi tebusan bagi banyak orang.

    Dalam keadaan manusia, saya yakin Yesus mengalami masa paling sepi dalam hidup-Nya, yaitu pada malam sebelum Ia diserahkan. Malam itu Yesus membawa ke dua belas murid-Nya. Lalu Ia mengajak orang yang paling dekat di hati-Nya yaitu Petrus, dan kedua anak Zebedeus yaitu Yakobus dan Yohanes untuk berdoa bersama Dia. Dalam keadaan demikian, Yesus memerlukan sekali dukungan dari orang-orang tersebut. Tetapi apa yang Dia dapati? Murid-murid-Nya tertidur pulas. Akhirnya Tuhan Yesus menyesali keadaan mereka dan mengeluh: "…tidak sanggupkah kamu berjaga-jaga dengan Aku satu jam saja…?" Matius 26:40b.

    Saudara! Dalam perjalanan hidup rohani kita seringkali juga harus menghadapi masa-masa paling sepi. Ada saat dimana kita butuh seorang teman untuk menopang atau setidaknya mendengarkan keluhan dan unek-unek hati kita. Tetapi apa yang kita rindukan tidaklah menjadi kenyataan. Kita mulai panik, bingung dan tetap merasa sepi. Hati-hatilah dengan keadaan tersebut! Karena iblis dapat menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan iman kita jika kita membuka sedikit celah saja. Ingatkah saudara ketika Daud jatuh dengan Batsyeba? Menurut Anda mengapa Daud jatuh? Sebenarnya, penyebab kejatuhan Daud adalah sepele sekali, yaitu Daud tidak berhati-hati ketika dia sedang merasa sendiri di Istana. Pada saat semua pejuang-pejuang Daud maju berperang, Daud hanya berjalan-jalan di sotoh rumah. Ia tidak berdoa seperti kebiasaanya. Hal inilah yang akhirnya iblis pakai untuk menjatuhkan Daud dengan menyerang keinginan matanya ketika melihat Batsyeba sedang mandi. Buah dari dosa Daud bukan hanya berakibat ia berzinah tetapi juga membunuh suami Betsyeba dengan akal liciknya. Fatal bukan?

    Saya percaya, Yesus mengerti apa itu kesepian. Ia tahu apa itu kesendirian. Ia juga tahu betapa Anda sangat membutuhkan seorang teman disamping Anda ketika kesepian itu datang. Satu hal yang Anda perlu lakukan pada saat demikian bukanlah mengeluh dan menyalahkan keadaan, tetapi kita harus BERDOA DAN BERJAGA-JAGA supaya kita jangan jatuh dalam pencobaan - Matius 26:41. Dan percayalah bahwa Yesus selalu ada di dekat Anda untuk menjadi teman dan sahabat Anda. Ingatlah apa yang pernah Yesus katakan dalam Yohanes 15 bahwa Ia tidak lagi menyebut kita hamba, tetapi sahabat. Hal itu berarti bahwa Anda adalah seorang dekat di hati Tuhan karena Anda adalah sahabat-Nya. Oleh karena itu, Jangan pernah merasa sendiri !!!

  3. Paulus (II Korintus 11: 23-28)
    Ketika membaca ayat diatas, saya menyimpulkan bahwa musim-musim perubahan yang Rasul Paulus alami sangatlah kompleks. Dalam pelayanannya, Paulus banyak sekali mengalami siksaan, pukulan dan kadangkala didera beberapa kali. Juga dalam perjalanannya melalui padang gurun dan laut. Paulus banyak menghadapi tantangan yang kalau kita pikirkan, hal itu tidak mudah untuk dilalui seseorang begitu saja. Banyak harga yang harus dibayar oleh Paulus untuk melayani Kristus. Tetapi dia tetap sanggup melakukannya. Apakah yang membuat Paulus mampu dengan semuanya itu? Apa rahasianya?

    a. Filipi 4:13
    Dalam bahasa Inggris terjemahan sehari-hari dikatakan: I have strength to face all condition Through Jesus who gave me strength. Artinya: aku mempunyai kekuatan untuk menghadapi segala situasi melalui Yesus yang telah memberiku kekuatan.
    Paulus hidup dalam kasih karunia Allah yang berlimpah. Ia sangat yakin bahwa semua musim perubahan dalam pelayanannya bukan hanya dia saja yang menanggungnya, tetapi Yesus yang telah memberi dia kekuatan.

    b. Roma 5: 3-5
    Paulus adalah orang yang setia. Dalam bahasa Yunani 'setia' memakai kata 'hupomone' yang artinya to stay in a given place; tinggal ditempat yang telah diberi. Walaupun tempat itu adalah tempat yang paling tidak enak sekalipun, tetaplah setia. Walaupun tempat itu adalah tempat yang menurut Anda tidak menghasilkan dan tidak menjanjikan apa-apa untuk hidup Anda, tapi tetaplah setia. Bahkan walau tempat itu adalah tempat yang paling membuat Anda sendirian dan sepi, sekali lagi tetaplah setia.


Cobalah Anda baca doa nabi Habakuk dalam Habakuk 3:12-19

12 Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak bangsa-bangsa.
13 Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan. Sela.
14 Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala lasykarnya, yang mengamuk untuk menyerakkan aku dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan orang tertindas secara tersembunyi.
15 Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih.
16 Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.
17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

Kesetiaan kepada Tuhan akan selalu membuahkan kekuatan karakter yang kuat dalam hidup rohani Anda. Maka, ingatlah dan yakini bahwa Allah selalu turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Jangan pernah senang untuk hidup dalam kenyamanan. Orang yang selalu suka akan kenyamanan adalah orang yang tidak akan pernah bertumbuh. Ia akan sama saja seperti orang Farisi dan Saduki sebab ia menolak tantangan dan perubahan yang positif. Seperti halnya sebuah karet gelang yang ada dalam ukuran, warna dan bentuk yang berbeda, tetapi semua bekerja dengan satu prinsip yang yaitu direnggangkan agar bisa efektif. Begitu pula hidup Anda. Anda tidak akan pernah efektif jika Anda tidak siap dalam memasuki musim-musim perubahan Allah.
Saya terkesan sekali dengan perkataan John Knox, seorang reformator besar abad pertengahan, yang berkata: "…kalau ada hal terburuk yang Allah lakukan kepada umat-Nya adalah ketika Ia membuat jalan hidup kita nyaman dan tanpa ujian…"
Maka kita mengerti sekarang, bahwa Allah tidak akan pernah melakukan hal yang demikian. Karena Ia adalah Allah yang suka akan perubahan bagi umat-Nya yaitu untuk berbuah dan menjadi lebih dewasa. Amen !!!







BeritaSorgawi.com
Hak Cipta 2001-2003