Oleh Pnt. Andereas Samudera
Allah menyatakan kasih-Nya kepada manusia dengan menghampiri manusia yang berdosa itu dan menyatakan rencana-rencana-Nya. Ia mulai membentuk suatu bangsa yakni bangsa Israel yang dilahirkan dari keturunan Abraham, seorang yang beriman kepada-Nya. Agar segala janji dan rencana Allah itu merupakan pegangan yang teguh bagi bangsa Israel, maka Allah mengadakan suatu ikatan janji dengan mereka. Mengapa? Supaya dengan janji-janji yang diberikan oleh Allah ini, iman orang Israel itu boleh berpegang pada janji itu dan mencapai apa yang direncanakan Allah.
Dalam alkitab bahasa Inggris ikatan janji antara Allah dan manusia itu disebut ‘covenant’ antara manusia dengan Allah, antara lain: Bil 25:12 ‘covenant of peace’; Bil 25:13 ‘covenant of an everlasting priesthood’; Mal 2:8 ‘covenant of Levi’, Amos 1:9 ‘covenant of brotherhood’; Kis 7:8 ‘covenant of circumcision’ Kata yang sama dipakai untuk nama kedua bagian Alkitab kita: Perjanjian Lama ( Ibrani: berit ) dan Perjanjian Baru ( Gerika: diatheke ) atau "Testament"
Setiap ‘covenant’ biasanya diteguhkan dengan pengucuran darah korban sembelihan atau dengan garam. Kel 24:8 ‘the blood of the covenant’; Bil 18:19 ‘a covenant of salt’
Darah Perjanjian (The Blood Of The Covenant)
Ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Allah dengan makan buah Pengetahuan Baik dan Jahat, mereka kehilangan ‘pakaian’ mereka semula yakni cahaya terang yang menyelubungi mereka. Mereka merasa malu dihadapan Allah karena merasa telanjang. Mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Tetapi Tuhan menggantinya dengan kulit binatang. Darah binatang terkucur untuk pertama kalinya. Walaupun belum menjadi ketetapan yang jelas bahwa ini suatu perjanjian darah, namun sejak saat itu bila manusia berdosa hendak menghampiri Allah harus ada binatang yang disembelih dan mengucurkan darah.
Perjanjian darah ini menjadi jelas ketika bangsa Israel keluar dari negeri Mesir dan berkumpul di kaki gunung Horeb. Allah mengikat janji dengan bangsa Israel, Ia hendak menjadikan bangsa ini semua bangsa imam, umat kesayangan Allah sendiri, untuk menyampaikan kehendak Allah kepada seluruh bangsa di dunia, dengan syarat mereka harus mentaati segenap perintah dan ketetapan-Nya. (Kel 19:5-6). Musa menyembelih 12 ekor sapi untuk menandai ikatan janji ini, darah sapi itu ditampung dan dipercikkan kepada seluruh bangsa Israel. Setelah itu Musa naik ke puncak gunung selama 40 hari untuk menerima Firman Tuhan. Sementara itu orang Israel berkhianat dengan membuat patung lembu emas dan mulai menari-nari memujanya sebagai Allah mereka. Tuhan menyuruh Musa turun dan ia melihat bangsa itu berkhianat terhadap perjanjian mereka dengan Allah. Musa memecahkan kedua loh batu yang ditulis oleh jari Tuhan sendiri dan ia memisahkan suku Lewi yang tidak ikut menyembah berhala itu dan ia memerintahkan mereka menyembelih saudara-saudaranya sendiri yang menyembah berhala. Dalam sehari itu 3000 orang dibunuh mati dengan pedang (Kel 32:27-28). Karena mereka mengingkari perjanjian darah yang mereka buat terhadap Tuhan, mereka harus mengucurkan darah mereka sendiri.
Kemudian Tuhan berjanji akan mengadakan Perjanjian Baru dengan umat Israel. Ia hendak menuliskan Firman Allah didalam hati orang percaya hingga tiap orang akan mengenal Allah karena diajar oleh Firman itu. Sebelum itu dosa manusia akan dihapuskan oleh-Nya (Yer 31: 31-34; Ibr 8:8-12). Darah Yesus yang sempurna itu dicurahkan sebagai meterai Perjanjian Baru.
1Kor 11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"
Perjanjian Baru ini digenapi ketika Allah sendiri menyembelih Anak-Nya sebagai Penebus dosa umat manusia, darah-Nya dikucurkan sebagai darah Perjanjian Baru. Setelah dosa dibereskan oleh Darah itu, Roh Kudus yang dijanjikan itu diberikan kepada orang yang dengan iman menerima Darah Perjanjian itu sebagai jalan pengampunan dosanya. Roh Kudus yang kemudian menjadi seperti tinta yang menulis Firman Allah dihati orang beriman ini ( 2Kor 3:3 ). Roh Kudus adalah Perjanjian Baru itu !
Di zaman Perjanjian Baru, kita tidak usah menyembelih binatang lagi. Yesus yang telah disembelih sekali untuk dosa semua orang. Kita hanya tinggal percaya di dalam hati dan mengaku dengan mulut bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat kita dan darah-Nya menghapus dosa kita, maka dosa kita dihapuskan dan kita diselamatkan pada saat itu juga. Sekarang antara kita dan Allah ada perjanjian darah yang amat kuat. Ikatan janji darah ini memakai darah yang jenisnya bukan darah binatang, melainkan darah Anak Domba Allah (Mat. 26:26-29). Sekarang kita mengingat perjanjian darah itu setiap kali dalam perjamuan kudus di mana anggur menjadi peringatan Darah Yesus. Setelah kita ditebus menjadi milik-Nya, sudah sewajarnya bila kita mempersembahkan diri untuk dipakai oleh-Nya. Namun banyak orang bergumul-gumul berlama-lama untuk mau melayani Dia. Ini tidak adil. Kalau seseorang menggadaikan barang di pegadaian, saat jatuh tempo bila si pemilik tak mampu membayar kembali, barangnya akan menjadi milik pegadaian, kecuali seseorang, mungkin tetangganya mau menebus barang itu. Bila tetangga yang membayarnya, kembali kepada siapakah barang itu ? Kembali kepada tetangga yang menebus itu bukan ? Kalau hidup kita ditebus oleh Tuhan Yesus, kita adalah milik Dia. Dialah yang punya hak untuk menentukan apa rencana-Nya untuk hidup kita selanjutnya. Dalam kenyataannya, orang Kristen selalu mau bila diselamatkan, diberkati setiap saat, ditolong Tuhan setiap saat tapi begitu diminta menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan ia berkata: “Nanti dulu, saya belum siap”. Sekarang, Ia tak pernah memaksa kita melayani Dia namun Firman Tuhan menghimbau agar kita mempersembahkan kehidupan kita sebagai persembahan yang kudus, yang hidup dan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadah kita yang sepatutnya kepada Dia
Rom. 12:1-2 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Pengalaman di Lampung
Tahun 1994 saya dengan beberapa anggota tim Revival Total Ministry berada di Lampung, kami mengadakan Kursus Pelayanan Pribadi. Setiap kali kami membuat KPP, kami harus berperang melawan penguasa-penguasa di udara. Saya datang dengan tubuh yang lelah sekali dan perasaan yang tidak siap sebab beberapa hari sebelumnya, komputer saya kemasukan virus. Banyak data yang penting hilang. Saya kurang tidur beberapa hari dalam mengurus komputer saya. Di jalan pun, saya masih setengah tidur. Hari-hari pertama dalam acara KPP, pikiran saya masih di komputer, tidak sepenuhnya dalam pelayanan. Sebentar-sebentar hati saya merasa jengkel. Di sana, udara terasa panas, gersang dan kering. Orang yang datang tidak terlalu banyak karena tempatnya jauh di pinggir kota. Sambutan orang di sana tidak terlalu terbuka karena banyak gereja yang menutup pintu karena takut kepada Andereas. Tapi puji Tuhan, jumlah pesertanya kira-kira 100 orang dan kami kerjakan juga pelayanan ini.
Beberapa kali, saya ditegur oleh Ibu Dorcas karena ia merasa bahwa hati saya tidak di sana. Ketika kami berdoa, hati saya kadang-kadang merasa jengkel. Lama-lama, saya menyadari bahwa saya tidak boleh begitu karena Tuhan telah mempercayakan pelayanan ini kepada saya, dan saya harus membereskan hati saya. Saya lalu bertindak dan berdoa: “Aku bakar habis semua urusan komputer ini dari fikiranku, kubuang keluar sisanya dalam Nama Tuhan Yesus!”. Saya ulang-ulang kurang lebih sepuluh menit lamanya dan setelah itu saya merasa itu sudah hilang dan pikiran saya rasanya enteng. Lalu saya maju di dalam doa.
Keesokan harinya, saya merasakan ada hal lain di dalam hati saya. Hati saya merasa jengkel kepada beberapa hamba Tuhan yang berkhotbah di atas mimbar yang isinya menjelek-jelekkan diri saya walaupun nama saya tidak mereka sebutkan. Sebenarnya banyak diantara mereka itu dahulunya adalah teman-teman saya. Saya merasa sakit hati mendengar hal itu. Lalu saya berdoa, “Tuhan, saya ampuni mereka.” Tapi bekasnya di hati saya sakit dan berat sekali sehingga doa saya tidak mudah terangkat dengan gampang ke hadirat Tuhan. Di samping itu, berderet-deret ada banyak sekali pengalaman-pengalaman yang buruk dan penolakan-penolakan dari hamba-hamba Tuhan terbayang kembali di pikiran saya. Saya merasa lelah. Lalu saya meminta agar Tuhan membereskan hati saya.
Bedanya aliran Injili dan Kharismatik
Ketika saya menyembah Tuhan, mencoba mengangkat hati saya, saya berpikir tentang dua tempat kuasa Allah, yaitu:
- Kuasa salib yang membebaskan manusia dari segala dosa dan kutuk. Salib adalah tempat pertemuan antara Allah dengan manusia.
- Takhta anugerah Allah yang menyimpan segala kuasa Allah.
Saat itu terfikir oleh saya sebuah pertanyaan: apakah bedanya orang Kristen Injili dan orang Kharismatik? Orang Injili tiba pada Salib, memperoleh perdamaian dengan Allah. Salib mengandung kuasa untuk mempertemukan manusia berdosa dengan Allah. Mereka mempelajari kuasa salib itu, penuh dengan penyangkalan diri, merendahkan diri dan mengagungkan salib itu terus menerus. Mereka berputar-putar terus di sekitar salib itu saja. Tapi orang kharismatik, setelah tiba di kayu salib, didamaikan oleh Darah Kristus dengan Allah, berjalan terus ke arah tempat kuasa kedua, yakni takhta Anugerah, mengambil kuasa Allah dengan iman untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah diatas bumi ini.Cara Yesus membangun gereja-Nya
Saya bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, di antara dua tempat ini, apa yang Kau kerjakan?” Roh Kudus menjawab jelas dihati saya, “Aku membangun gereja-Ku.” (Mat. 16:18) Di antara 2 tempat kuasa ini, Tuhan membangun Gereja-Nya. Tiba-tiba didepan saya terbayang sebuah benteng yang besar sekali yang diletakkan di atas fondasi Tuhan Yesus sendiri sebagai batu karang yang teguh dan benteng itu dibangun oleh Tuhan Yesus pula. Gereja Tuhan bukanlah sebuah bangunan rumah biasa, tetapi berupa sebuah benteng yang besar sekali dalam vision itu. Dia membangun batu-batu itu lapis demi lapis. Sebelum batu-batu itu disemen, Dia menggosok batu-batu tersebut sampai menjadi batu permata yang indah. Dia tidak memasang batu-batu yang kasar. Apabila Dia masih menemukan juga batu-batu kasar, yang apabila Tuhan Yesus lewat dan tersenggol batu itu dan membuat Dia tergores, Dia akan mengeluarkan batu itu kembali dari tembok itu dan menggosoknya lagi hingga halus. Tapi apabila batu tersebut tidak bisa digosok lagi, atau kalau digosok terus menerus batu itu akan habis, Dia akan memutarbalikkan batu itu. Yang kasarnya dimasukkan ke dalam semen dan disemen dengan semen kasih. Tuhan bertanya kepada saya, “Tahukah itu batu apa?” Lalu Tuhan mulai menyebut nama-nama para hamba Tuhan, pendeta-pendeta dan penginjil-penginjil yang membenci saya. Mendengar hal itu, saya menangis dan meminta ampun kepada Tuhan. Saya sendiri juga termasuk salah satu batu yang sedang digosok oleh-Nya. Saya pikir saya sudah halus, tapi bagi orang lain barangkali saya masih terlalu tajam. Adalah tidak layak bagi saya untuk mendengki, jengkel atau kesal kepada batu-batu yang lain yang sedang digosok juga oleh Tuhan Yesus. Dan saya berkata sambil mencucurkan air mata, “Tuhan, aku mengerti sekarang. Aku tidak perlu merasa sakit hati atau jengkel. Aku cuma harus belajar menghargai karya-Mu atas orang-orang yang sekarang ini menggoresi diri saya. Saya harus menghargai pekerjaan-Mu sebab Engkau belum selesai dengan mereka. Tidak selayaknya aku menginginkan agar orang-orang/hamba-hamba Tuhan yang begitu indah dipakai oleh-Mu, hanya karena ia membuat aku luka, harus dibuang oleh-Mu. Saya tidak bisa mengharapkan hal seperti itu. Sebaliknya saya hanya boleh berharap untuk bisa belajar menghargai karya-Mu, Tuhan.” Ketika saya mengatakan hal itu, hatiku terangkat dan perasaan jengkel/kesal lenyap. Perasaan saya rasanya merdeka sekali dan saya bernyanyi di dalam roh secara bebas. Saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, kini kupersembahkan lagi hidupku secara penuh kepada-Mu. Terimalah persembahan ini dan biarlah hati-Mu menjadi senang karenanya. Biarlah persembahan ini membuat-Mu bersukacita.” Saya menyanyi dan bersukacita dengan merdeka sekali rasanya, saya melompat-lompat sendiri, di depan hadirat Tuhan, di kamar saya.
Tiba-tiba terbayang di depan saya, persembahan saya ini seperti segumpal daging yang dipersembahkan kepada Tuhan. Persis seperti binatang yang dipersembahkan oleh orang Israel yang ditaruh di atas mezbah untuk dibakar. Lalu tiba-tiba saya melihat ada garam yang turun dari atas, dipercikkan diatas daging itu dari langit, jatuh dimuka saya. Saya tidak mengerti apa makna dari garam tersebut. Lalu saya mencari kebenaran tentang garam itu di Alkitab. Dengan bantuan konkordansi saya temukan beberapa ayat yang menarik tentang garam.
Perjanjian Garam
Setiap persembahan yang diberikan kepada Allah dalam bentuk makanan, daging, tepung atau sesuatu yang dapat dimakan, Allah mengatakan:
Im 2:13 Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.
Setiap persembahan, supaya itu sempurna dan berkenan di hadapan Allah harus dibubuhi dengan garam. Yang wajib membubuhi garam tersebut adalah imam-imam. Jadi orang Israel membawa binatang korban mereka ke Bait Suci, lalu imam-imam menyembelih dan mempersiapkan binatang korban itu, lalu membubuhkan garam diatas daging itu sebelum dibakar dengan api. Daging yang dibubuhi dengan garam itu menghasilkan wangi yang berkenan kepada Allah. Itu adalah persembahan yang sempurna. Dalam masa Perjanjian Baru, perjanjian ini pun masih tetap berlaku.
Pada waktu saya menerima pernyataan itu, saya melihat gumpalan daging itu dibubuhi oleh garam. Garam itu adalah urapan Allah. Dalam kitab Markus saya ingat ayat ini:
Mrk 9:49 Karena setiap orang akan digarami dengan api. Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."
Saya melihat, setiap orang itu selalu dikejar oleh api. Ketika seseorang belum bertobat, ada api sengsara mengejar mereka. Karena sengsara itu ada manusia yang mencari pertolongan supra natural, mereka mencari pertolongan setan-setan melalui dukun-dukun. Dengan demikian mereka makin terjerat kedalam kesengsaraan. Di lain pihak ada juga yang mencari Allah. Setelah mereka bertobat, ia harus mau dikuduskan dengan pelayanan pelepasan, dimana urapan api membakar semua roh-roh jahat didalam dirinya sehingga ia tidak dikuasai lagi oleh roh-roh yang akan menjatuhkan ia lagi kedalam dosa kelak. Bila mereka tak di mau dibersihkan dengan urapan api, mereka akan hidup jatuh bangun dalam dosa dan kelemahan-kelemahan. Nanti pada akhir zaman, bila mereka tak hidup sesuai dengan pertobatan mereka semula, ia akan di buang juga kedalam api yang menyala-nyala di neraka. Jadi ketika orang itu dilahirkan baru, Allah telah menyediakan api yang lain yakni urapan api. Api dari Allah, yang diberikan untuk membersihkan jiwa seseorang dari roh-roh dunia dan roh-roh jahat yang lain dalam pelayanan pelepasan, yang akan menghindarkan seseorang masuk kedalam api neraka. Mereka yang telah dikuduskan dengan urapan api ini layak melayani Tuhan. Jika api yang dari Allah itu tinggal terus didalam diri orang itu, ia memiliki urapan yang mampu menolong orang lain hingga ia dapat membebaskan roh-roh jahat didalam diri orang lain. Jadi benar sekali bahwa setiap orang memang akan digarami dengan api ! Hanya apinya berbeda-beda bentuknya.
Ketika ayat ini saya bandingkan dengan versi bahasa Inggrisnya, ada yang kurang sedikit di dalam terjemahan bahasa Indonesia kita.
Mark 9:49-50 "For everyone will be seasoned with fire, and every sacrifice will be seasoned with salt. Salt is good, but if the salt loses its flavor, how will you season it? Have salt in yourselves, and have peace with one another." (NKJV)
Saya heran mengapa terjemahan Indonesia itu tak menyebutkan bagian: and every sacrifice will be seasoned with salt yang berarti: setiap persembahan harus dibubuhi dengan garam. Ayat ini menunjukkan bahwa perjanjian garam itu tetap ada didalam Perjanjian Baru. Tetapi bila tidak dilatarbelakangi dengan pengertian perjanjian garam dari masa Perjanjian lama ayat ini tak jelas artinya. Setelah kita terikat dengan Perjanjian Darah, darah Yesus, Perjanjian Garam itu ternyata tak pernah dihapuskan. Setiap orang yang mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhan ia terikat oleh Perjanjian Garam dengan Tuhan.
Perjanjian Garam Daud
Pada waktu terjadi perang antara Yehuda yang dipimpin raja Abia melawan Israel dibawah Yerobeam, dengan jumlah pasukan yang tak seimbang, empat ratus ribu di pihak Yehuda melawan delapan ratus ribu pasukan di pihak Israel, Abia mengingatkan orang Israel tentang perjanjian garam yang dibuat oleh Daud dengan Yahweh.
2Taw 13:5 Tidakkah kamu tahu, bahwa TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam? Apa artinya perjanjian garam itu hingga Abia membawa-bawanya dalam peperangan ? Perjanjian garam antara Daud dengan Tuhan adalah perjanjian yang amat kuat dan berlaku turun temurun. Allah berjanji akan terus mengurapi keturunan Daud dengan kuasa untuk memerintah kerajaan Yehuda.
Maz 89:4-5 Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun."
Rupanya perjanjian Allah turun temurun dengan Daud ini disertai dengan pengorbanan binatang yang dibubuhi garam dan itu mengikat Allah sendiri untuk selalu mengurapi keturunan Daud dengan kuasa pemerintahan. Abia mencoba mengingatkan orang Israel bahwa karena perjanjian itu. maka walaupun jumlah mereka setengah dibanding tentara Israel, kemenangan pasti di pihak mereka. Benar sekali, walaupun Yerobeam menang jumlah dan juga menang strategi dalam perang itu, karena diam-diam Yerobeam mengirim sebagian pasukannya mengelilingi tentara Yehuda melingkar dan menyerang mereka dari belakang dan dari depan, ketika orang Yehuda memekikkan pekik perang, Allah memberi mereka kuasa dan mengalahkan musuhnya. Bahkan Yerobeam akhirnya menjadi lemah sampai mati dibunuh Tuhan.
2Taw 13:14-15 Ketika Yehuda menoleh ke belakang, lihatlah, mereka harus menghadapi pertempuran dari depan dan dari belakang. Mereka berteriak kepada TUHAN, sedang para imam meniup nafiri, dan orang-orang Yehuda memekikkan pekik perang. Pada saat orang-orang Yehuda itu memekikkan pekik perang, Allah memukul kalah Yerobeam dan segenap orang Israel oleh Abia dan Yehuda.
2Taw 13:20 Tak pernah lagi Yerobeam mendapat kekuatan di zaman Abia. TUHAN memukul dia, sehingga ia mati.
Tahukah anda bila anda memiliki perjanjian garam dengan Allah kita, anda diberi kemenangan turun temurun terhadap musuh-musuh anda ? Bila anda menerima urapan kuasa Roh Kudus, berlaku ayat ini:
Maz 105:15 "Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku!"
Apakah arti Garam itu ?
Pada waktu saya mendapat penglihatan itu, setelah saya mempersembahkan diri kepada Tuhan saya diberi garam yang saya rasa seperti ditaburkan di muka saya. Dengan segera roh saya mengerti itu adalah urapan Allah. Tuhan terikat oleh perjanjian garam itu. Bagian saya adalah mempersembahkan hidup saya, bagian Tuhan Yesus yang sekarang melayani sebagai Imam di sorga wajib untuk membubuhkan garam kepada persembahan saya. Kapan saya memperoleh garam ini ?
Pengurapan itu diberikan dalam hidup saya karena saya mempersembahkan korban yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah. Persembahan saya menjadi kudus dan berkenan kepada Allah sejak saya membuang perkara-perkara yang menjadi beban di hati saya dan jerat-jerat si Iblis yang menekan pikiran saya serta perasaan hati yang luka terhadap orang lain. Persembahan yang sempurna adalah persembahan yang telah dibubuhi garam. Banyak orang berdoa mempersembahkan diri kepada Tuhan tetapi persembahan mereka tak sempurna karena tak pernah menerima urapan Roh Kudus dari Tuhan. Kapan Tuhan mau memberi garam atas persembahan hidup seseorang ? Setelah korban itu dikuduskan dengan membuang jerat-jerat iblis di fikiran dan perasaan-perasaan buruk terhadap orang lain !
Bil. 18:19 Segala persembahan khusus, yakni persembahan kudus yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN, Aku berikan kepadamu dan kepada anak-anakmu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya; itulah suatu perjanjian garam untuk selama-lamanya di hadapan TUHAN bagimu serta bagi keturunanmu."
Kita mengaku bahwa kita adalah keturunan Abraham secara iman. Kitalah sekarang Israel secara rohani. Ketetapan Firman Tuhan diatas juga berlaku bagi kita sampai sekarang. Sampai sekarang, kita diikat oleh perjanjian garam. Yesus adalah garam dunia. Bila seseorang mempersembahkan tubuhnya untuk melayani Tuhan, dan ia menguduskan diri untuk Tuhan, Yesus sendiri berjanji sebagai Imam Ia wajib membubuhkan garam keatas orang itu agar menjadi asin dan boleh menjadi garam dunia juga. Ini membuat kita terhibur dan kita memiliki jaminan bahwa kapan saja saatnya kita menguduskan dan mempersembahkan diri kepada-Nya Ia pasti selalu memberikan garam-Nya untuk kita. Garam ini berbicara tentang urapan Roh Kudus.
Garam Yang Kehilangan Asinnya
Tuhan Yesus bertanya kepada murid-muridnya:
Mark 9:50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."
Ada garam yang dapat kehilangan asinnya, yaitu orang percaya yang tidak mampu mengubah suasana yang rusak menjadi suasana yang indah dan yang tidak mampu menguasai lingkungannya. Garam yang kehilangan asinnya adalah orang yang telah diurapi oleh Roh Kudus tetapi urapannya padam karena hatinya teruruk dengan pelbagai masalah dunia sehingga rohnya tak menyala-nyala lagi. Sekarang bila garam kehilangan asinnya, bagaimana anda dapat mengasinkannya lagi ? Garam dapur yang kehilangan asinnya hanya pantas untuk dibuang saja. Tapi bila seseorang kehilangan asinnya atau kuasa urapannya padam, Tuhan Yesus masih dapat mengasinkannya lagi asal ia mau menguduskan dirinya sendiri dan datang mempersembahkan dirinya lagi kepada-Nya, maka ia akan membubuhinya dengan urapan baru.
Perkataan Yang Hambar.
Sekarang lihatlah ayat didalam Kolose 4 ini.
Kol. 4:6 Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.
Col 4:6 Let your speech always be with grace, seasoned with salt, that you may know how you ought to answer each one. NKJV
Apa artinya kata-kata yang hambar ? Bila seseorang datang kepada anda dan mencurahkan beban hatinya karena hidupnya dirundung dengan kesusahan bertubi-tubi, anda dapat berkata dengan cuek seperti ini: ‘Yah, ibu bersabarlah dan berdoa sajalah kepada Tuhan. Serahkan seluruh kekhawatiran ibu kepada Tuhan saja. Didunia ini memang banyak kesusahan, nanti kalau kita tiba di surga, di sana tak ada lagi kesusahan !” Jawaban begini tak ada artinya bagi si ibu. Itu hiburan yang hambar saja.
Tapi dalam terjemahan bahasa Inggrisnya ditulis: ‘Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih dan diurapi dengan garam!’ Itu artinya perkataan anda jangan hambar saja namun disertai urapan agar dapat menjawab, menyelesaikan masalah. Bila anda penuh urapan Roh Kudus, ada garam dalam diri anda, maka anda akan pimpin ibu itu berdoa: ’Tuhan saya bersyukur bahwa Tuhan menyertai saya dalam segala hal dan mengubah segala kutuk menjadi berkat dan Engkau selalu mengaruniakan kemenangan kepadaku. Sekarang dalam nama Tuhan Yesus aku membuang semua beban dan stress didalam hatiku ini, enyah keluar aku bersama Tuhan Yesus juga mengusir kuasa jahat yang menguasai suamiku, anak-anakku dan kehidupan ekonomiku…..’ Dan dengan urapan itu anda membebaskan dia dari tekanan batin melalui pelayanan pelepasan. Selanjutnya anda mentransfer ibu itu dengan urapan kuasa Roh Kudus hingga hatinya terangkat, penuh iman dan sukacita dan ada api menyala yang kini dapat membakar setan-setan keluar dari rumah tangganya. Ada solusi yang nyata dan menghasilkan kemenangan terhadap setan- setan.
Ibadah Tanpa Kuasa
2Tim. 3:5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
Pada saat ini, banyak orang yang secara lahiriah beribadah, tapi sebenarnya mereka memungkiri ibadah mereka dan menjadikannya sebagai suatu tradisi saja. Banyak persekutuan doa bertumbuh namun kini lebih banyak pemberitaan Firman dan pengajaran dibagikan disitu tapi penyembahannya kurang. Sebenarnya Persekutuan Doa seharusnya adalah tempat untuk penyembahan. Penyembahan yang benar adalah yang didahului oleh pemberesan hati. Hal ini menyebabkan tidak banyak orang yang dilayani mengalami pertobatan. Mengapa? Karena kuasa pertobatan, kuasa kesembuhan, pelepasan dan segala kuasa yang lain itu bertumbuh bila jemaat menyembah Allah dengan sungguh-sungguh sampai semua tenggelam dalam urapan Roh Kudus. Bila kurang menyembah Allah dengan benar, urapan tidak turun dan jemaat tidak menerima urapan kuasa Roh Kudus. Banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan yang kelihatannya hidup, tapi sebenarnya buahnya tidak ada.
Why. 3:2 Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.
Sungguh sangat menyedihkan bila seseorang datang kepada Tuhan, setelah banyak menderita didunia dalam melayani Tuhan, hatinya terluka karena macam-macam penolakan dari dunia, lalu ia mengeluh dan berkata: ‘Tuhan aku telah melayani Engkau dengan segenap tenaga dan fikiranku, aku membela Nama-Mu tetapi mereka sungguh tak mengerti pengorbananku dan kini aku menjadi lelah dan putus asa, tolonglah aku dan kuatkan aku Tuhan…..’ dan Tuhan menjawab: ‘Itu salahmu sendiri, siapa suruh engkau melayani Aku dengan kekuatanmu sendiri ? Yang Kukehendaki ialah bahwa engkau mempersembahkan diri kepada-Ku, nanti aku memberi engkau garam-Ku hingga engkau mempunyai kuasa untuk mengerjakan pekerjaan-Ku. Bukan dengan kekuatanmu tetapi oleh kuasa-Ku!’
Rom 11:36-12:3 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Yang membuat seseorang bertobat adalah urapan. Urapan adalah kuasa ibadah. Kita mendapatkan urapan ketika kita menyembah Allah dengan benar. Dalam penyembahan itu ada unsur mempersembahkan diri. Arti kata kudus diatas adalah mengkhususkan diri untuk Allah. Bila seseorang mempersembahkan tubuhnya kepada Allah, ia merelakan dirinya khusus untuk dipakai bagi kepentingan Allah. Dengan menguduskan diri bagi-Nya, itu akan membuat orang itu dibubuhi garam urapan Roh Kudus.
Itulah sebabnya, kita harus mempersembahkan tubuh kita.
Konsep melayani Tuhan
Banyak kali konsep seseorang dalam melayani Tuhan tidak benar. Bila seseorang menyerahkan diri untuk melayani Tuhan, biasanya mereka langsung berpikir untuk mengambil salah satu bidang pelayanan, entah sebagai penginjil yang mencari jiwa atau sebagai gembala dengan masuk ke sekolah theologia dahulu, atau dalam bidang musik dan puji-pujian lalu membuat rekaman atau pagelaran dan sebagainya. Sebenarnya melayani Tuhan itu nomor satu datang kehadirat Tuhan dan menyembah Dia sampai Dia puas! Layani Dia dengan penyembahan dan mempersembahkan tubuhmu bagi Dia. Sementara itu Roh Kudus akan membenahi segala cacat-cela dan kekurangan anda, setiap dosa yang belum dibereskan dihadapan Allah akan dibongkar, mendorong anda mengakuinya didepan Dia, mengampuni mereka yang belum anda ampuni, membuang sisa-sisa memori yang kotor, jahat, dan busuk sehingga jiwamu sungguh merdeka. Mungkin saat seperti itu anda mengalami pelepasan demi pelepasan sendiri atau didukung orang lain. Ia kemudian akan memberi pernyataan-pernyataan atau visi pelayanan anda sesudah itu. Bisa jadi itu amat berbeda dengan semua kemampuan dan bakat yang anda miliki. Memang harus begitu, agar engkau tidak memegahkan diri dengan kemampuanmu dihadapan Allah. Setelah itu Ia akan berkomunikasi melalui Roh Kudus-Nya di dalam anda hari demi hari dan urapan Roh Kudus akan menyertai pelayanan anda hingga anda melayani Dia bukan dengan kekuatanmu sendiri tetapi dengan kuasa-Nya.