Edisi Kedelapan - Maret | April | Mei 2003





Halaman Muka


Cari Kata:
Dari Situs :


Kantor Redaksi :
Gedung RDSB Lt.2
Jl. Soekarno-Hatta 73
Bandung - Indonesia

Account Bank :
Bank Central Asia
Sumbersari - Bandung
Ac. 157 11 888 78
an. R. Iwan Indra Irawan



Statistik Pengunjung

Administrator




Minggu, Mei 11, 2003

Anak Hilang, Kembali

Oleh : Ibu Lili
Shalom saudara dan saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Saya berasal dari Bandung dan saya bukan anggota jemaat Gereja RDSB. Tapi saya tahu tentang gereja ini dari Majalah Berita Sorgawi. Secara kebetulan saya diberikan kesempatan oleh Tuhan Yesus untuk mencetak majalah tersebut sehingga saya sering ikut membacanya terutama wahana kesaksian. Dari membaca majalah inilah, saya mengetahui perihal Bapak Andereas Samudera, Bapak Daud dan Ibu Dorcas Daud serta mujizat Allah yang bekerja melalui tangan hamba-hamba-Nya ini.

Pada tanggal 14 Januari 2003, waktu saya menjemput anak saya di Sekolah Dasar Kristen I BPK Penabur jalan Jendral Sudirman no: 246. Saat itu pukul setengah satu siang dan saya mendengar keributan tentang adanya anak yang hilang. Kebetulan Ibu si anak yang hilang saya kenal walaupun tidak terlalu dekat. Anak yang hilang itu duduk di kelas enam dan dia bernama Velina. Dia meninggalkan sekolah saat jam istirahat yaitu pukul sebelas siang dan tidak kembali lagi ke kelasnya setelah jam istirahat. Karena itu pihak sekolah menelpon ke rumahnya, menanyakan apa anak tersebut sudah pulang, sebab tas sekolahnya ditinggal begitu saja. Tentu saja teman saya dan suaminya langsung panik. Mereka menghubungi semua saudaranya bila ada diantara mereka ada yang menjemput anaknya di sekolah. Semuanya menjawab tidak. Teman saya dan suaminya datang ke sekolah dan bertanya kepada semua teman Velina dan rata-rata mereka mengatakan tidak tahu karena tidak melihat Velina saat istirahat. Saudara, saya adalah seorang ibu dari dua orang anak, saya dapat merasakan bagaimana kesedihan dan kebingungan teman saya itu. Kehilangan anak perempuan dan usianya menjelang remaja. Apalagi pada saat sekarang ini, kejahatan sangat merajarela.

Pada jam setengah tiga siang, saya menelpon teman saya dan menanyakan apa anaknya telah ditemukan. Sambil menangis ia mengatakan belum. Saya menyuruhnya agar ia menghubungi kepolisian. Teman saya mengatakan kalau suaminya telah melapor. Saat itulah saya teringat kepada Ibu Dorcas. Karena saya tidak tahu nomor telepon beliau dan tidak mengenal beliau, saya jadi takut dan ragu-ragu untuk menghubungi beliau. Apalagi saya tidak mengetahui secara pasti apakah teman saya ini orang Kristen atau bukan.

Tetapi saya teringat akan kisah orang lumpuh yang diturunkan teman-temannya dengan membuka atap rumah untuk bertemu Yesus. Mungkin si orang lumpuh tidak beriman, tetapi ia mempunyai teman-teman yang beriman yang mau bersusah-payah agar si lumpuh dapat bertemu Tuhan Yesus. Oleh karena itu, dengan memberanikan diri saya menghubungi Gereja RDSB dan menanyakan nomor telepon anaknya Ibu Dorcas, Henky yang kebetulan sudah saya kenal. Dari Henky saya akhirnya dapat menghubungi Ibu Dorcas melalui telepon, dan beliau mengajak saya bersama-sama berdoa melalui telepon dan mengatakan "Kami minta saat ini dua malaikat-Mu memegang di tangan kanan dan di tangan kiri anak itu dan mengembalikan ke ibunya pada pukul lima sore hari ini!!"

Jujur saja, sebenarnya saya ragu, apakah betul?! Apakah pukul lima sore ini anak itu akan kembali? Saya takut menghubungi teman saya lagi. Kalau teman saya sudah mengenal Tuhan Yesus sih tidak apa-apa, tapi kalau bukan, apa saya tidak akan dicap sombong atau keterlaluan dan lain lain? Tapi untuk apa saya menghubungi Ibu Dorcas dan meminta dukungan doa beliau kalau saya juga tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah yang hidup yang sanggup menyelesaikan segala perkara.

Saat itu saya menelpon Ibu Dorcas jam tiga siang dan pada pukul setengah lima, saya baru berani menelpon teman saya. Saya bertanya apakah dia percaya Yesus? Dia bilang maaf kalau dia bukan Kristen. Saya katakan tidak apa-apa, tapi saya dan ibu pendeta sudah berdoa dan beliau mengatakan bahwa nanti jam lima sore sebentar lagi anak itu akan pulang. Teman saya hanya mengucapkan terima kasih. Setelah tepat pukul lima sore, sungguh, saya tidak berani menelpon teman saya itu. Saya takut tapi penasaran juga. Pukul delapan malam, saya baru berani menghubungi teman saya lagi. Apa yang terjadi saudara! Teman saya mengatakan anaknya sudah pulang lima belas menit setelah saya menutup telpon. Dia mendapat telpon dari tetangganya yang kebetulan bertemu anak itu di dekat perumahan Muara Jl. Lingkar Selatan. Ternyata anak itu ditemukan dalam keadaan bingung. Kejadiannya adalah, ia keluar sekolah pada jam istirahat sendirian untuk membeli jajanan, tapi kemudian dia dituntun oleh seorang ibu dan dia tidak ingat apa-apa lagi setelah itu. Setengah sadar katanya sekitar jam empat sore dia tiba-tiba sudah ada di jalan Pagarsih dan terus berjalan sampai dia bertemu dengan ibu tetangga itu, yang segera menelepon teman saya. Sebenarnya teman saya ingin menghubungi saya untuk memberi kabar tentang hal ini, tapi dia tidak menemukan nomor telepon saya.

Saya tentunya senang sekali mendengar kabar tersebut. Dan saya amat bersyukur Tuhan Yesus mau menolong teman saya. Terima kasih Tuhan Yesus, mujizat dan Kuasa-Mu masih bekerja. Terima kasih Ibu Dorcas, walaupun Ibu tidak kenal saya sebelumnya dan saya bukan jemaat dari Gereja RDSB, Ibu mau membantu saya, Tuhan Yesus Memberkati Ibu.






BeritaSorgawi.com
Hak Cipta 2001-2003